Kamis, 06 November 2014

setelah tujuh tahun

Blog ini aku telantarkan tujuh tahun. Tak ditengok, tak dilongok, tak juga disirami. Bagiku tak Ada gunanya menuliskan gagasan di blog.

Sampai sekarang memang tak begitu jelas, ngapain menarikan dua ibu jari ini di papan ketik ini. Mengisi waktu luang? Mungkin saja. Namun tampaknya saya tak pernah punya waktu luang dalam artian sekedar iseng.toh sebenarnya tak pernah ada yang namanya waktu luang yang berkonotasi tak ada guna atau sebagai sisa. Semua saat selalu gerakan dari Sang Ilahi itu sendiri.

Secuil yang saya lakukan, yaitu menulis blog ini memang spontan. Dalam hatiku terasa enteng dan seneng saja. Tak perlu ada basil yang diburu untuk melakukan sesuatu. Biarkan saja apa yang di dalam menari dengan sendirinya.

Semua sudah ada di dalam. Beri saja kesempatan yang di dalam menampakkan bentuknya.

Cinta itu sudah  ada di dalam, tak perlu dicari atau diusahakan ada. Berikan saja kesempatan pads cinta untuk tampil ke muka. Thanks to de mello atas tulisan tentang memberi kesempatan pada cinta untuk tampil adalah yang utama, bukanlah berjuang mendapatkannya. Dua sudah ada.

Selasa, 11 Desember 2007

Makna


Peristiwa itu bertebaran. Seperti debu yang berterbangan dilewati sang waktu. Satu-satunya kemampuan manusia yang perlu terus diasah adalah mengikat makna. Amat sulitlah mengikat debu yang berterbangan, tetapi hanya dengan ketekunan dan kesabaran untuk mengumpulkannya selagi mengendap, yang sulit menjadi mudah. Dengan kata lain, perlu membiasakan diri mengendapkan tebaran debu yang terbang tak tentu itu.

Makna memang kadang membatasi manusia untuk mencermati fakta. Tapi mengabaikan makna sama saja hanya menjadi tong yang menggelinding. Dingin dan kaku menjalan hidup. Hidup seperti menunggu mati.

Karena itulah, makna yang bertebaran itu ingin aku kumpulkan di antara sisa-sisa kesempatan ketika aku bisa mengendapkannya. Aku ingin berbagi. Kepada siapa saja. Terutama kawan-kawan sepeziarahan.